Rabu, 27 Januari 2021

Pillow

 Air yang jatuh dari langit, tidak hanya meninggalkan jejak bagi bumi 

Tapi juga meninggalkan jejak pada hati yang dulu pernah terluka

Pada hati yang pernah sama rapuhnya dengan daun kering yang jatuh

Sama lembabnya dengan tanah yang tersiram air


Setiap tapak kaki terasa sama beratnya dengan ego

Setiap tapak kaki terasa sama pilunya dengan tangis

Setiap tapak kaki terasa menyekik dengan harapan


Bukan asa yang ia harap

Bukan asa yang ia pupuk

Bukan pula pedih yang ia mau


Seiring terjalnya kenyataan membawa ia pada suatu fakta

Hidup ini tidak pernah semudah itu

Tidak pula serumit pemikirannya

Tidak pula sesedih harapnya yang di kubur paksa oleh fakta


Ia lelah, lelah dengan harap

Ia lelah, lelah dengan nyata

Ia lelah, melihat nya tertawa 

Tertawa di atas harapannya yang terpaksa pupus


Ia butuh tempat

Tempat untuk bersandar

Di atas sajadah, di balik mukena

dan berlanjut di atas bantal yang tak kunjung kering...

Minggu, 12 Juli 2020

Sweet Dream (Cerpen)

 Di ruang keluarga tampak keluarga kecil tengah berkumpul, membicarakan hal-hal ringan ditemani secangkir teh dan kudapan ringan, keluarga bahagia yang selalu di impikan oleh kebanyakan orang .  Hani mendengarkan apa yang orangtua nya bicarakan sesekali ikut bergabung dalam topik yang mereka bicarakan. Hani gadis berusia 19tahun seorang mahasiswa jurusan Psikologi disalah satu Universitas terkemuka dikotanya.

“Pa, tadi mama ngliat pasangan muda berantem ditengah jalan, duh malu-maluin banget deh pa masa mereka sampe teriak-teriak kayak gak ada orang disekitar mereka” Ucap Mama Hani

“Ya biarin ajalah ma, itukan urusan mereka” Balas Papa Hani sembari mengambil kudapan

“Iya deh, mama rajin banget dengerin orang berantem biarin ajalah ma, yang malu kan mereka sendiri” Tambah Hani

“Kamu gak ngliat tadi mereka berantemnya kayak gimana sih Han, mereka itu berantem karna nyesel dijodohin sama orangtua mereka, emangnya kamu mau Mama jodohin sama anak teman mama ?” Mama Hani pun berujar sensi

“Kalo Hani sih gak begitu masalah sama perjodohan tinggal Papa sama Mama aja yang harus nyariin jodoh yang benar-benar baik buat Hani” Jawab Hani sensi, Papa Hani menggeleng heran bagaimana bisa istri dan anaknya itumemperdebatkan hal seperti itu.

“Sudah-sudah kok jadi kalian yang berantem sih ? Hani gak usah khawatir papa pasti nyariin jodoh yang terbaik buat Hani” Papa Hani mencoba untuk melerai perdebatan itu dengan menggoda putri semata wayangnya

“Yah papa kok gitu sih ? kan Hani bercanda, jangan jodohin Hani ya pa !” Ujar Hani merajuk, Papa dan Mama Hani hanya menanggapinya dengan tawa berbanding terbalik dengan Hani yang mengerucutkan bibirnya kesal tapi diam-diam menikmati hal itu dengan bahagia

 

 

  Hani mengerjapkan matanya terkejut memastikan apa yang ia lihat bukanlah sebuah khayalan, karna kini dari lantai 2 dimana kamar Hani berada, Hani bisa melihat banyaknya orang yang datang membawa banyak hantaran, Dikerumunan itu Hani mengenali satu sosok yang terlihat mencolok dengan pakaian formalnya dan juga postur tubuhnya yang tinggi membuat orang-orang bisa melihatnya secara langsung ‘DONI SEPTIADI’ Seniornya di club pecinta alam. Salah satu sosok lelaki yang sangat ia idamkan untuk menjadi tambatan hati, saat matanya terfokus hanya kearah Doni tiba-tiba pandangannya bertemu dengan mata yang setajam elang, Hani menggenggam tangannya didepan dada jantungnya berdetak cepat hanya karna bertemu pandangan dengan mata Doni. Seseorang tolong selamatkan Hani sebelum Hani bertindak bodoh dengan melompat dari lantai 2 dan menghampiri Doni

“Sayang!” Panggilan itu cukup untuk menyadarkan Hani dari lamunannya, dengan cepat Hani menoleh menghadap kearah Mamanya yang tampak rapi dengan setelan kebaya dan rambut yang disanggul

 

“Mama mau kemana ? kelihatan rapi banget ma” komentar Hani atas penampilan Mamanya yang tidak seperti biasanya “Ini bukan hari kartini ma” Tambahnya karna tidak mendapati jawaban dari Mamanya, Mamanya tampak asik membuka lemari bajunya dan memilih-milih baju yang tidak Hani ketahui untuk apa “Mama lagi ngapain sih?” Tanya Hani mulai kesal

“Pakai ini, tunanganmu sudah menunggu dibawah sayang kita tidak punya banyak waktu untuk berdandan” Ujar  Mama Hani menyodorkan gaun berwarna orange yang tampak elegan

 

 

  Hani masih belum bisa mencerna apa saja yang baru terjadi di hidupnya, yang ia sadari hanyalah ia baru saja menyematkan cincin dijari Doni setelah Doni terlebih dahulu menyematkan cincin dijemari tangannya. Doni tampak mengumbar senyum kepada para keluarga besar nya dan juga keluarga besar Hani. Ini gila ! hal itulah yang terbersit di otak Hani saat satu persatu orang meyalami dan mengucapkan selamat kepadanya dan jangan lupakan Doni yang tidak henti  tersenyum, rasa-rasanya Hani ingin berlari kekamarnya mengambil kamera dan mengabadikan moment langka tersebut.

 Hani tidak henti-hentinya memuji segala kelebihan Doni, memuji wajah orientalnya dan juga mata sipitnya yang tajam, jangan lupakan postur tubuhnya yang mampu membuat kaum hawa menjerit terpesona, Hani merasa ini adalah sebuah keajaiban yang tidak akan ia sia-siakan, meski diawal ia menolak dengan perjodohan tapi jika ia dihadapkan dengan lelaki idamannya Hani tidak akan menolaknya.

Hani merasa jantungnya akan lepas saat doni menatap kearahnya, menatapnya lembut hingga membuat Hai benar-benar terlena akan segala sesuatu yang Doni lakukan.

“Aku akan pulang, ini sudah malam lekaslah tidur, have a sweet dream, sweet heart” Doni mengakhiri kalimatnya dengan melambaikan tangan, Lalu melangkah pergi sampai Hani tidak lagi melihat punggung Doni

 

 

 Hani melirik ke arah Doni yang tengah berkumpul dengan para senior yang lain kesal, Entah sudah berapa lama dari hari pertunangan yang pasti ketika mereka berpapasan dikampus, berjumpa saat di club pecinta alam Doni tampak mengacuhkannya, tanpa sapaan sedikitpun bukankah itu menyebalkan ? Hani sebagai tunangannnya merasa begitu diabaikan dan tidak dianggap, sungguh malang nasibnya.

 Kegaduhan terjadi di kejauhan mengalihkan perhatian Hani dapat ia lihat beberapa anggota club pecinta alam berlari dibelakangnya tampak pula orang-orang berseragam Polisi Hutan mengejar mereka

“Shit ! apalagi ini ?” Rutuk Hani saat jarak mereka semakin mendekat

 

 Doni dan beberapa anggota senior yang lain meyadari hal itu, sontak mereka menghentikan aksi kejar-kejaran itu, mencoba untuk membicarakan hal itu baik-baik, Hani tidak bisa mengalihkan pandangannya dari Doni, Hani begitu menikmati setiap perubahan ekspresi wajahnya, otaknya masih memikirkan perihal apa yang terjadi antara dirinya dan Doni hal-hal yang berlalu tampak berjalan aneh. Hani mengerjapkan matanya saat Doni menepuk badannya mengembalikan Hani dari lamunan panjangnya. Doni melepaskan jaketnya dan memberikannya kepada Hani

“Pakai ini, dan tunggu aku disana” Titah Doni, Hani mengangguk patuh tidak menolak meski dirinya tidak tahu maksud Doni, terlalu terpesona dengan karisma sang tunangan

 Hani menatap teman-teman Club Pecinta alam bingung karna kini satu persatu dari mereka pergi melewatinya tanpa menyapa atau apa, Hani memberengutkan hidungnya tidak suka. Doni berhenti dihadapannya dengan menaiki sepeda.

“Cepat naik!” Titah Doni, Hani tidak mendapati sebuah boncengan dibelakang Doni

“Kau berniat memboncengku didepan ?” Tanya Hani yang Hani yakini kini ia tampak sangat konyol

“Lalu kau berharap aku akan memboncengmu dimana ? cepat naik”

 Meski merasa sedikit tidak nyaman Hani tetap menuruti apa yang Doni ucapkan, Ini gila bagi Hani dengan jarak sedekat ini Hani bisa mencium harum tubuh Doni, kedua tangan Hani yang menggenggam setang sepeda seperti begitu melindunginya agar tidak terjatuh, Hani mendongakkan wajahnya menatap Doni, pipi Hani merona begitu menyadari jaraknya yang sangat dekat dengan Doni, Hani mengalihkan pandangannya menatap langit yang mulai gelap, hari sudah petang dan mereka belum sampai ke tempat yang akan mereka tuju. Sejenak Hani tersadar akan kemana mereka sebenarnya, tadi mereka melewati teman-teman club pecinta alam yang berjalan kaki Hani semakin bertanya-tanya dalam hati kemana mereka akan pergi ?

“Kita akan kemana ?” Tanya Hani setelah melewati perdebatan batin tersendiri

“Akhirnya kau bertanya ku kira kau seperti gadis bodoh yang mengikuti ajang pencarian bakat tanpa tahu apa bakatmu” Sindir Doni ketus, Hani mengerucutkan bibirnya kesal mendengar apa yang diucapkan Doni

“Jadi kita mau kemana ?”

“Keluar dari hutan”Jawab Doni singkat begitu fokus terhadap jalan dihadapannya, Hani mengerutkan hidungnya bingung

“Kenapa kita keluar dari Hutan ? Bukankah kita sudah membangun perkemahan ?”

“Diamlah aku tidak bisa fokus jika harus menjawabmu terus menerus” Jawaban ketus dari Doni benar-benar membuat mood Hani hancur

 Hani tidak lagi bertanya tapi menyibukkan dirinya menatap langit malam yang kini dipenuhi oleh cahaya dari bulan dan juga bintang-bintang yang bertaburan, pikirannya melayang mengingat apa saja yang terjadi hari ini dan pipinya sontak merona mengingat apa saja yang terjadi dengan dirinya dan Doni, meskipun Doni cenderung ketus dan juga cuek tapi dibalik hal itu Doni sangatlah perhatian padanya, Hani menoleh memandang Doni rasanya menyenangkan bisa menatap orang yang kita sayangi seperti ini terlalu fokus menatap Doni bahkan membuat Hani tidak sadar bahwa kini mereka sudah diluar hutan.

“Apa kau tidak berniat turun ?” Doni menatap Hani dengan alis kanan terangkat benar-benar tampan, hal itu yang terlintas dipikiran Hani “Kau tidak berniat turun ?” ulang Doni menyadarkan Hani

“Ugh.... maaf” Hani turun dari sepeda menyapukan pandangannya keseluruh objek yang bisa ia lihat, dan Yah Hani merutuki kebodohannya sendiri

 

 

 Hani menunduk malu saat para anggota club memberikan tatapan sinis padanya, Karna dirinya dibonceng Doni dan tidak berjalan kaki beberapa anggota club pecinta alam beberapa temannya di club pecinta alam enggan berbicara dengannya

“Ela” sapa Hani pada seorang gadis yang baru saja melewatinya, sahabatnya dikampus Ela menoleh sekilas setelah memberikan tatapan sinis ia melanjut jalannya, benar-benar mengacuhkan Hani

 Hani menunduk sedih, baru saja ia merasakan kebahagiaan tapi sekarang bahkan tidak ada satu orangpun yang mau mendengar maupun berbagi cerita dengannya, Hani mengusap airmata yang tanpa bisa ditahan meluncur, Hani melihat ada sepatu tepat dihadapannya sontak Hani mendongakkan wajahnya ingin melihat siapa gerangan yang  masih mau dekat dengannya

 Doni, lelaki itu berdiri dihadapan Hani dengan kedua tangan tersembuyi dibalik jaket, berdiri dengan wajah angkuh tapi tatapannya syarat akan kecemasan, Doni merengkuh Hani dan saat itu pula tangis Hani pecah

“Sudahlah jangan menangis, kau tidak perlu menangis untuk mereka tangisanmu sangat berharga jadi jangan kau buang sia-sia” Doni mencoba menenangkan Hani

“Tapi mereka jahat” Ujar Hani disela tangisnya, Doni mengusap punggung Hani menenangkan

“Biarkan mereka menjadi orang jahat yang terpenting adalah kau tidak boleh menjadi seperti mereka”  Hibur Doni

 Hani tersenyum dalam tangisnya tak apa orang diluar sana jahat kepadanya yang terpenting ia tidak boleh seperti mereka dan yang terpenting lainnya adalah kini Doni ada disampingnya menjadi sandarannya ketika ia bersedih

 

 

 Hani tersenyum dan memeluk gulingnya erat tidak menyadari hal itu mengakibatkan hal buruk terjadi

‘brukk!’

“Aww....” Aduh Hani saat tubuhnya mencium lantai dengan tidak elite

 Hani mengusap tubuhnya yang sakit, pikirannya pun mengingat hal apa yang menyebabkan ia terjatuh. Pipinya memerah malu kala ia teringat mimpi nya yang terasa begitu nyata, Hani memukul kepalanya pelan senyuman tidak bisa ia sembunyikan meskipun ada hal sedih tapi Hani tetap merasa bahagia mengingatnya dan jangan lupakan tentang lelaki yang muncul di mimpinya Doni Septiadi yang membuat gadis feminim dan hobi merawat diri seperti Hani mengikuti club pecinta alam yah senior tampan itulah alasannya.

‘cklekk’ Pintu kamar Hani terbuka menampakan wanita yang terlihat cantik di usianya yang ke 43 tahun tentu saja itu Mamanya

 Hani mengerutkan hidungnya, Mama nya tampak memakai kebaya seperti yang ada dimimpinya rambutnya pun sudah tersanggul rapi

 

“Sayang, kenapa belum siap-siap ?” Mama nya sibuk memilih baju dilemari Hani

 

“Eo. Memangnya ada apa ? Hari ini aku tidak ada kelas ma” jawab Hani bingung

 

“Mama tau kamu tidak ada kelas hari ini sayang, tapi tunanganmu akan datang sebentar lagi sayang” Jelas ibu nya menyodorkan dress cantik berwarna putih anggun

 

“HAH ?!” Hani melongo mendengarapa yang di ucapkan mama nya

 

 

-THE END-


Cerita ini di buat waktu saya masih SMA, di bulan maret 2014 ada sosok yang hadir tapi tidak saya kenal, ada kesan mendalam dalam cerita ini 😊

Between Heaven n Hell

Mencintaimu dalam diam, membisikkan namamu dalam setiap doa
Biarlah orang mengatakan tidak pantas
Biarkanlah orang mengatakan tidak sadar diri
Karna nyatanya cinta seringkali membuat kita lupa diri

Aku hanya sedang jatuh cinta
Tanpa ingin memasukkan unsur logika
Aku memiliki Tuhan, yang bisa merubah segala hal
Yang mustahil menjadi nyata

Aku percaya kekuatan doa
Sebagaimana aku yakin bahwa Tuhan tak akan menyesatkan
Aku mencintaimu sebagaimana dirimu
Mencintai dirimu sendiri

Sabtu, 02 Mei 2020

Dari Aku Untuk Kamu

 Hai, ini adalah surat terbuka ku untukmu
Untuk kamu yang bahkan tak pernah berani melihatku atau memang aku tidak pernah nampak di matamu ?
huh ! tapi kamu bisa berbincang  dan menatap balik teman-temanku.
Menyebalkan ! tapi bagaimana aku bisa marah denganmu ?
Jika dirimu terbalut dalam diri yang begitu baik.

Anggap saja aku terlalu penakut !
Untuk sekedar mengajakmu berbicara saja, aku gemetar
Rangkaian kata yang sudah aku siapkan menguap begitu saja
Berganti dengan aku yang kelimpungan untuk berbicara
Dan kamu hanya membalas singkat setiap kata-kataku !
Tidak adil bukan ? menyebalkan kan ?
YA ! tentu saja kamu begitu menyebalkan !
Tapi aku sayang....