Di ruang keluarga tampak keluarga kecil tengah
berkumpul, membicarakan hal-hal ringan ditemani secangkir teh dan kudapan
ringan, keluarga bahagia yang selalu di impikan oleh kebanyakan orang . Hani mendengarkan apa yang orangtua nya bicarakan
sesekali ikut bergabung dalam topik yang mereka bicarakan. Hani gadis berusia
19tahun seorang mahasiswa jurusan Psikologi disalah satu Universitas terkemuka
dikotanya.
“Pa, tadi mama
ngliat pasangan muda berantem ditengah jalan, duh malu-maluin banget deh pa
masa mereka sampe teriak-teriak kayak gak ada orang disekitar mereka” Ucap Mama
Hani
“Ya biarin ajalah
ma, itukan urusan mereka” Balas Papa Hani sembari mengambil kudapan
“Iya deh, mama
rajin banget dengerin orang berantem biarin ajalah ma, yang malu kan mereka
sendiri” Tambah Hani
“Kamu gak ngliat
tadi mereka berantemnya kayak gimana sih Han, mereka itu berantem karna nyesel
dijodohin sama orangtua mereka, emangnya kamu mau Mama jodohin sama anak teman
mama ?” Mama Hani pun berujar sensi
“Kalo Hani sih gak
begitu masalah sama perjodohan tinggal Papa sama Mama aja yang harus nyariin
jodoh yang benar-benar baik buat Hani” Jawab Hani sensi, Papa Hani menggeleng heran
bagaimana bisa istri dan anaknya itumemperdebatkan hal seperti itu.
“Sudah-sudah kok
jadi kalian yang berantem sih ? Hani gak usah khawatir papa pasti nyariin jodoh
yang terbaik buat Hani” Papa Hani mencoba untuk melerai perdebatan itu dengan
menggoda putri semata wayangnya
“Yah
papa kok gitu sih ? kan Hani bercanda, jangan jodohin Hani ya pa !” Ujar Hani
merajuk, Papa dan Mama Hani hanya menanggapinya dengan tawa berbanding terbalik
dengan Hani yang mengerucutkan bibirnya kesal tapi diam-diam menikmati hal itu
dengan bahagia
Hani mengerjapkan matanya terkejut memastikan
apa yang ia lihat bukanlah sebuah khayalan, karna kini dari lantai 2 dimana
kamar Hani berada, Hani bisa melihat banyaknya orang yang datang membawa banyak
hantaran, Dikerumunan itu Hani mengenali satu sosok yang terlihat mencolok
dengan pakaian formalnya dan juga postur tubuhnya yang tinggi membuat
orang-orang bisa melihatnya secara langsung ‘DONI SEPTIADI’ Seniornya di club
pecinta alam. Salah satu sosok lelaki yang sangat ia idamkan untuk menjadi
tambatan hati, saat matanya terfokus hanya kearah Doni tiba-tiba pandangannya
bertemu dengan mata yang setajam elang, Hani menggenggam tangannya didepan dada
jantungnya berdetak cepat hanya karna bertemu pandangan dengan mata Doni.
Seseorang tolong selamatkan Hani sebelum Hani bertindak bodoh dengan melompat
dari lantai 2 dan menghampiri Doni
“Sayang!”
Panggilan itu cukup untuk menyadarkan Hani dari lamunannya, dengan cepat Hani
menoleh menghadap kearah Mamanya yang tampak rapi dengan setelan kebaya dan
rambut yang disanggul
“Mama
mau kemana ? kelihatan rapi banget ma” komentar Hani atas penampilan Mamanya
yang tidak seperti biasanya “Ini bukan hari kartini ma” Tambahnya karna tidak
mendapati jawaban dari Mamanya, Mamanya tampak asik membuka lemari bajunya dan
memilih-milih baju yang tidak Hani ketahui untuk apa “Mama lagi ngapain sih?”
Tanya Hani mulai kesal
“Pakai
ini, tunanganmu sudah menunggu dibawah sayang kita tidak punya banyak waktu
untuk berdandan” Ujar Mama Hani
menyodorkan gaun berwarna orange yang tampak elegan
Hani masih belum bisa mencerna apa saja yang
baru terjadi di hidupnya, yang ia sadari hanyalah ia baru saja menyematkan
cincin dijari Doni setelah Doni terlebih dahulu menyematkan cincin dijemari tangannya. Doni tampak
mengumbar senyum kepada para keluarga besar nya dan juga keluarga besar Hani.
Ini gila ! hal itulah yang terbersit di otak Hani saat satu persatu orang
meyalami dan mengucapkan selamat kepadanya dan jangan lupakan Doni yang tidak
henti tersenyum, rasa-rasanya Hani ingin
berlari kekamarnya mengambil kamera dan mengabadikan moment langka tersebut.
Hani tidak henti-hentinya memuji segala
kelebihan Doni, memuji wajah orientalnya dan juga mata sipitnya yang tajam,
jangan lupakan postur tubuhnya yang mampu membuat kaum hawa menjerit terpesona,
Hani merasa ini adalah sebuah keajaiban yang tidak akan ia sia-siakan, meski
diawal ia menolak dengan perjodohan tapi jika ia dihadapkan dengan lelaki
idamannya Hani tidak akan menolaknya.
Hani
merasa jantungnya akan lepas saat doni menatap kearahnya, menatapnya lembut hingga
membuat Hai benar-benar terlena akan segala sesuatu yang Doni lakukan.
“Aku akan pulang, ini sudah malam lekaslah tidur, have a sweet dream,
sweet heart” Doni mengakhiri kalimatnya dengan melambaikan tangan, Lalu
melangkah pergi sampai Hani tidak lagi melihat punggung Doni
Hani melirik ke arah Doni yang tengah
berkumpul dengan para senior yang lain kesal, Entah sudah berapa lama dari hari
pertunangan yang pasti ketika mereka berpapasan dikampus, berjumpa saat di club
pecinta alam Doni tampak mengacuhkannya, tanpa sapaan sedikitpun bukankah itu
menyebalkan ? Hani sebagai tunangannnya merasa begitu diabaikan dan tidak
dianggap, sungguh malang nasibnya.
Kegaduhan terjadi di kejauhan mengalihkan
perhatian Hani dapat ia lihat beberapa anggota club pecinta alam berlari
dibelakangnya tampak pula orang-orang berseragam Polisi Hutan mengejar mereka
“Shit
! apalagi ini ?” Rutuk Hani saat jarak mereka semakin mendekat
Doni dan beberapa anggota senior yang lain
meyadari hal itu, sontak mereka menghentikan aksi kejar-kejaran itu, mencoba
untuk membicarakan hal itu baik-baik, Hani tidak bisa mengalihkan pandangannya
dari Doni, Hani begitu menikmati setiap perubahan ekspresi wajahnya, otaknya
masih memikirkan perihal apa yang terjadi antara dirinya dan Doni hal-hal yang
berlalu tampak berjalan aneh. Hani mengerjapkan matanya saat Doni menepuk
badannya mengembalikan Hani dari lamunan panjangnya. Doni melepaskan jaketnya
dan memberikannya kepada Hani
“Pakai
ini, dan tunggu aku disana” Titah Doni, Hani mengangguk patuh tidak menolak
meski dirinya tidak tahu maksud Doni, terlalu terpesona dengan karisma sang
tunangan
Hani menatap teman-teman Club Pecinta alam
bingung karna kini satu persatu dari mereka pergi melewatinya tanpa menyapa
atau apa, Hani memberengutkan hidungnya tidak suka. Doni berhenti dihadapannya
dengan menaiki sepeda.
“Cepat
naik!”
Titah Doni, Hani tidak mendapati sebuah boncengan dibelakang Doni
“Kau
berniat memboncengku didepan ?” Tanya Hani yang Hani yakini kini ia tampak
sangat konyol
“Lalu
kau berharap aku akan memboncengmu dimana ? cepat naik”
Meski merasa sedikit tidak nyaman Hani tetap
menuruti apa yang Doni ucapkan, Ini gila bagi Hani dengan jarak sedekat ini
Hani bisa mencium harum tubuh Doni, kedua tangan Hani yang menggenggam setang
sepeda seperti begitu melindunginya agar tidak terjatuh, Hani mendongakkan
wajahnya menatap Doni, pipi Hani merona begitu menyadari jaraknya yang sangat
dekat dengan Doni, Hani mengalihkan pandangannya menatap langit yang mulai gelap,
hari sudah petang dan mereka belum sampai ke tempat yang akan mereka tuju.
Sejenak Hani tersadar akan kemana mereka sebenarnya, tadi mereka melewati
teman-teman club pecinta alam yang berjalan kaki Hani semakin bertanya-tanya
dalam hati kemana mereka akan pergi ?
“Kita
akan kemana ?” Tanya Hani setelah melewati perdebatan batin tersendiri
“Akhirnya
kau bertanya ku kira kau seperti gadis bodoh yang mengikuti ajang pencarian
bakat tanpa tahu apa bakatmu” Sindir Doni ketus, Hani mengerucutkan bibirnya
kesal mendengar apa yang diucapkan Doni
“Jadi
kita mau kemana ?”
“Keluar
dari hutan”Jawab Doni singkat begitu fokus terhadap jalan dihadapannya, Hani
mengerutkan hidungnya bingung
“Kenapa
kita keluar dari Hutan ? Bukankah kita sudah membangun perkemahan ?”
“Diamlah
aku tidak bisa fokus jika harus menjawabmu terus menerus” Jawaban ketus dari
Doni benar-benar membuat mood Hani hancur
Hani tidak lagi bertanya tapi menyibukkan
dirinya menatap langit malam yang kini dipenuhi oleh cahaya dari bulan dan juga
bintang-bintang yang bertaburan, pikirannya melayang mengingat apa saja yang
terjadi hari ini dan pipinya sontak merona mengingat apa saja yang terjadi
dengan dirinya dan Doni, meskipun Doni cenderung ketus dan juga cuek tapi
dibalik hal itu Doni sangatlah perhatian padanya, Hani menoleh memandang Doni
rasanya menyenangkan bisa menatap orang yang kita sayangi seperti ini terlalu
fokus menatap Doni bahkan membuat Hani tidak sadar bahwa kini mereka sudah
diluar hutan.
“Apa
kau tidak berniat turun ?” Doni menatap Hani dengan alis kanan terangkat
benar-benar tampan, hal itu yang terlintas dipikiran Hani “Kau tidak berniat
turun ?” ulang Doni menyadarkan Hani
“Ugh....
maaf” Hani turun dari sepeda menyapukan pandangannya keseluruh objek yang bisa
ia lihat, dan Yah Hani merutuki kebodohannya sendiri
Hani menunduk malu saat para anggota club
memberikan tatapan sinis padanya, Karna dirinya dibonceng Doni dan tidak
berjalan kaki beberapa anggota club pecinta alam beberapa temannya di club
pecinta alam enggan berbicara dengannya
“Ela”
sapa Hani pada seorang gadis yang baru saja melewatinya, sahabatnya dikampus
Ela menoleh sekilas setelah memberikan tatapan sinis ia melanjut jalannya,
benar-benar mengacuhkan Hani
Hani menunduk sedih, baru saja ia merasakan
kebahagiaan tapi sekarang bahkan tidak ada satu orangpun yang mau mendengar
maupun berbagi cerita dengannya, Hani mengusap airmata yang tanpa bisa ditahan
meluncur, Hani melihat ada sepatu tepat dihadapannya sontak Hani mendongakkan
wajahnya ingin melihat siapa gerangan yang
masih mau dekat dengannya
Doni, lelaki itu berdiri dihadapan Hani dengan
kedua tangan tersembuyi dibalik jaket, berdiri dengan wajah angkuh tapi
tatapannya syarat akan kecemasan, Doni merengkuh Hani dan saat itu pula tangis
Hani pecah
“Sudahlah
jangan menangis, kau tidak perlu menangis untuk mereka tangisanmu sangat
berharga jadi jangan kau buang sia-sia” Doni mencoba menenangkan Hani
“Tapi
mereka jahat” Ujar Hani disela tangisnya, Doni mengusap punggung Hani
menenangkan
“Biarkan
mereka menjadi orang jahat yang terpenting adalah kau tidak boleh menjadi
seperti mereka” Hibur Doni
Hani tersenyum dalam tangisnya tak apa orang
diluar sana jahat kepadanya yang terpenting ia tidak boleh seperti mereka dan
yang terpenting lainnya adalah kini Doni ada disampingnya menjadi sandarannya
ketika ia bersedih
Hani tersenyum dan memeluk gulingnya erat
tidak menyadari hal itu mengakibatkan hal buruk terjadi
‘brukk!’
“Aww....”
Aduh Hani saat tubuhnya mencium lantai dengan tidak elite
Hani mengusap tubuhnya yang sakit, pikirannya
pun mengingat hal apa yang menyebabkan ia terjatuh. Pipinya memerah malu kala
ia teringat mimpi nya yang terasa begitu nyata, Hani memukul kepalanya pelan
senyuman tidak bisa ia sembunyikan meskipun ada hal sedih tapi Hani tetap
merasa bahagia mengingatnya dan jangan lupakan tentang lelaki yang muncul di
mimpinya Doni Septiadi yang membuat gadis feminim dan hobi merawat diri seperti
Hani mengikuti club pecinta alam yah senior tampan itulah alasannya.
‘cklekk’
Pintu kamar Hani terbuka menampakan wanita yang terlihat cantik di usianya yang
ke 43 tahun tentu saja itu Mamanya
Hani mengerutkan hidungnya, Mama nya tampak
memakai kebaya seperti yang ada dimimpinya rambutnya pun sudah tersanggul rapi
“Sayang,
kenapa belum siap-siap ?” Mama nya sibuk memilih baju dilemari Hani
“Eo.
Memangnya ada apa ? Hari ini aku tidak ada kelas ma” jawab Hani bingung
“Mama
tau kamu
tidak ada kelas hari ini sayang, tapi tunanganmu akan datang sebentar lagi
sayang” Jelas ibu nya menyodorkan dress cantik berwarna putih anggun
“HAH
?!” Hani melongo mendengarapa yang di ucapkan mama nya
-THE END-
Cerita ini di buat waktu saya masih SMA, di bulan maret 2014 ada sosok yang hadir tapi tidak saya kenal, ada kesan mendalam dalam cerita ini 😊